“ARTIKEL”

Standar

Artikel

Pendidikan Sebagai Pilar Dasar Koperasi

Kalau kita menjelajahi pesisir, lereng-lereng bukit dan pematang hamparan sawah bahkan di desa-desa, kita sering dengar bahwa para nelayan, petani, peternak dan rakyat kecil pada umumnya tidak merasa memiliki koperasi. Padahal koperasi adalah penyangga ekonomi rakyat. Lalu kenapa mereka tidak mengenalnya?
Dinegara kita ini masih terdapat koperasi yang dibentuk dari atas. Ketuanya ditentukan dari atas, sehingga pola kebijakannyapun diintervensi dari atas. Koperasi dimuati masalah-masalah politik pada era yang telah silam, namun dampaknya masih terasa hingga saat ini. Koperasi yang benar adalah koperasi yang dibentuk dari bawah sebagai manifestasi dari dorongan dan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Hal ini terjadi karena tuntutan  pembangunan yang dipimpin pemerintah, yang pada waktu itu pemerintah memerlukan instrumen yang mampu melaksanakan program-program pemerintah ditingkat masyarakat. Aspirasi masyarakat kurang mendapat perhatian, sehingga warga masyarakat juga kurang memperhatikan koperasi.

Perkembangan ekonomi dunia dewasa ini mengarah kepada globalisasi. Dalam situasi semacam itu koperasi harus mampu mengubah dirinya menjadi lembaga ekonomi yang modern, dinamis, inovatif, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan. Upaya yang harus dilakukan adalah mengubah paradigmanya. Koperasi yang semula sebagai lembaga ekonomi yang berwatak sosial dan bersifat kekeluargaan, harus juga menjadi lembaga ekonomi yang berwatak bisnis dan mampu mandiri. Oleh karenanya pengembangan koperasi sebagai wahana peningkatan perekonomian rakyat perlu penekanan upaya dari bawah untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk ikut berpartisipasi.  Koperasi harus mampu menciptakan kondisi “dibutuhkan oleh masyarakat” sehingga dengan sukarela mereka bersedia menjadi anggota dan berperan aktif dalam kegiatan ekonomi koperasi. Hal ini kita perlu kembali kepada tiga pilar dasar koperasi yang sebenarnya sudah lama kita kenal.

  1. Koperasi merupakan system normative, karena system yang berkembang didalamnya tidak terlepas dari pranata sosial budaya masyarakat itu sendiri. Koperasi adalah manifestasi atas kekeluargaan dan gotong royong yang luas, melalui mekanisme “dari, oleh dan untuk anggota”

  2. Koperasi merupakan suatu mekanisme pendidikan bagi anggota-anggotanya. Peningkatan swadaya dan peningkatan partisipasi tidak terlepas dari kegiatan penyuluhan baik aspek ekonomi maupun sosial.

  3. Koperasi sebagai organisasi ekonomi yang berwatak sosial, adalah wadah usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan gotong royong. Dalam melaksanakan fungsinya sebagai organisasi ekonomi, koperasi selalu beraorientasi kepada pemenuhan kebutuhan hidup, peningkatan swadaya, dan peningkatan solidaritas sosial kearah partisipasi sosial bagi para anggota dan masyarakat lingkungan.

Anggota koperasi bukanlah kawanan domba dengan pengurus sebagai penggembala. Anggota koperasi juga bukan sekedar klien dari distributor pupuk, bukan pula masa rakyat yang berjubel menghadiri rapat anggota di lapangan sepak bola, bersorak sorai karena dipilih kembali dan neraca pembukuan disahkan. Anggota koperasi adalah pemilik  yang merupakan alasan keberadaan dan tujuan keberhasilan koperasi. Karena itu koperasi sering disebut sebagai organisasi dari, oleh dan untuk anggota.  Namun karena masih banyak anggota koperasi yang masih “tuna grahita”, maka hal itu belum dapat terwujud. Karena itu pendidikan anggota untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta kesadaran mereka sangat perlu, sama perlunya dengan mendapatkan keuntungan bagi koperasi. Kegiatan pendidikan dan keterampilan sangat penting, disamping pentingnya organisasi dan manajemen yang memadai.

Masalah keanggotaan dalam arti kuantitatif dan kualitatif menentukan sekali bagi kehidupan koperasi, karena sesuai dengan azas demokrasi, anggota adalah sumber utama dari eksistensi dan perkembangan koperasi. Bersama dengan itu koperasi harus dapat membuktikan bahwa organisasi ini memang berguna bagi anggota dan masyarakat. Dalam rangka meningkatkan rasa memiliki dari anggota kebutuhan anggota sering tidak cukup jelas dikemukakan, karena itu harus dengan bijaksana diupayakan memahami kebutuhan-kebutuhan anggota. Kita sering mendengar kalimat bijak dalam bahasa Sanskerta. Wani melu handarbeni, artinya para anggota harus berani ikut memiliki. Mereka harus berani mengatakan bahwa itu koperasi saya. Wani melu hangrungkebi, artinya berani ikut bertanggung jawab. Dan yang terakhir adalah Mulat sarira hangrasa wani. Mulat itu artinya menengok, sarira berarti badan, hangrasa artinya merasa, wani adalah berani, jadi kita harus berani menengok badan kita sendiri, kita harus berani mawasdiri, sudah benarkah kita ini. Semoga uraian ini menambah kesadaran kita bahwa pendidikan memang sangat perlu didalam tubuh koperasi. Motto yang tepat itu masih kita ingat yaitu . Koperasi lahir oleh pendidikan, tumbuh dan berkembang karena pendidikan dan dikontrol dengan pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s